Tafsir Al-Baqarah : 34-36

Ayat ke 34

Artinya:

Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para Malaikat, sujudlah kamu ‎kepada Adam, maka sujudlah mereka kecuali Iblis. Ia enggandan takabbur ‎dan adalah ia termasuk golongan orang-orang yang kafir.‎

Sebagai kelanjutan dari ayat-ayat terdahulu yang berbicara tentang ‎nikmat materi dan maknawi yang Allah berikan kepada manusia, juga khilafah ‎ilahi yang menunjukkan kemuliaan manusia, maka ayat ini memaparkan satu ‎lagi yang menunjukkan kemuliaan manusia, yaitu sujudnya para malaikat ‎kepada Nabi Adam as. Sebagaimana terdapat di dalam beberapa ayat surat ‎al-Hijr dan Shaad, Allah Swt ketika menciptakan manusia, berbicara kepada ‎para malaikat yang artinya, “Maka jika Aku telah menyempurnakannya dan ‎telah Kutiupkan ruh-Ku ke dalamnya, maka sujudlah kalian kepadanya.
Dengan demikian, sujud ini dilakukan karena penciptaan manusia, bukan ‎karena pengangkatannya sebagai khalifah. Karena persoalan khilafah serta ‎pengujian terhadap para Malaikat terjadi setelah tahap ini. Pada ‎dasarnya, jika perintah sujud dikeluarkan setelah kejelasan kedudukan ‎khilafah yang dicapai oleh Adam as, maka sujudnya para Malaikat itu tak akan ‎sedemikian bernilai. Karena sudah bukan lagi berdasarkan pada ta’abbud dan ‎penyerahan diri sepenuhnya kepada perintah ilahi, namun sujud itu dilakukan ‎karena kedudukan Adam as.‎
Sementara itu, Iblis, yang menurut ayat 50 surat al-Kahfi termasuk dari ‎golongan Jin yang mencapai kedudukan setingkat dengan para malaikat ‎berkat ibadahnya yang sangat tinggi, tidak bersedia melaksanakan perintah ‎ilahi itu. Dengan menyombongkan diri ia menyangka bahwa dari segi ‎ciptaan ia lebih tinggi dari pada Adam. Menurutnya, Adamlah yang seharusnya ‎bersujud kepadanya, bukan ia yang sujud terhadap Adam. Kemaksiatan dan ‎dosa Iblis bukan hanya di dalam perbuatan; tetapi dari segi keyakinan ‎Iblis juga telah menunjukkan kemaksiatannya. Karena ia menyakini bahwa perintah ‎Allah itu tidak adil dan bijaksana.
Dengan demikian maka Iblis telah kafir, tak beragama dan melepaskan ‎imannya. Sujudnya para malaikat kepada Adam bukan berarti menyembah ‎Adam.Sebab menyembah selain Allah tidak diperbolehkan. Mereka bersujud ‎kepada Adam atas dasar perintah ilahi sebagai penghormatan, yang pada ‎hakikatnya bersujud kepada Allah, namun karena penciptaan wujud mulia ini ‎yang bernama manusia.
Dari ayat tadi terdapat enam poin pelajaran yang dapat dipetik:‎ ‎ ‎
‎1. Hakikat ibadah adalah manusia melakukan perbuatan karena perintah ‎Allah, bukannya ia memilih dan mengamalkan perintah-perintah sesuai ‎dengan keinginannya. Selama berabad-abad Iblis bersedia sujud di hadapan ‎Allah, namun ia tidak mau bersujud sesaatpun kepada Adam. ‎
‎2. Jauh dari keadilan, apabila semua malaikat bersujud kepada manusia, ‎namun manusia tidak bersedia bersujud kepada Allah. ‎
‎3. Sombong dan takabbur di hadapan kebenaran, menarik manusia kepada ‎kekufuran dan ketidakberagamaan. ‎
‎4. Sujud dan tunduk di hadapan selain Allah apabila berdasarkan perintah ‎Allah, maka tidak hanya perbuatan non-syirik, bahkan ia merupakan tauhid ‎dan ubudiyyah itu sendiri. ‎
‎5. Kelayakan lebih penting dari pada umur dan keterdahuluan. Malaikat yang ‎telah diciptakan terlebih dahulu harus bersujud kepada Adam yang baru ‎diciptakan.‎
‎6. Sujud kepada Adam bukan hanya kepada dirinya, bahkan karena ‎keturunannya dan generasi manusia. Oleh karenanya Allah berfirman dalam ‎Surah al-A’raf ayat 11, “Wahai manusia, Kami ciptakan kalian, lalu kami ‎bentuk kalian, kemudian kami katakan kepada Malaikat: Bersujudlah kepada ‎Adam!“‎
Ayat ke 35

Artinya:

Dan Kami berfirman, “Hai Adam, diamilah oleh kamu dan isterimu surga ini ‎dan makanlah makanan-makanannya yang banyak lagi baik di mana saja ‎yang kamu sukai dan janganlah kamu dekati pohon ini yang menyebabkan ‎kamu termasuk orang-orang yang zalim.‎

Allah yang menciptakan manusia dari tanah liat. Untuk menjadi khalifah di ‎muka bumi, mula-‎mula menciptakan seorang isteri dari jenisnya sehingga menjadi pendamping ‎dan penghiburnya dan menjadi sumber kelestarian keturunannya. Semua itu demi menyediakan sarana kehidupannya di bumi. Kemudian ‎Allah menyediakan taman bak surga untuk mereka berdua di bumi yang ‎merupakan tempat tinggal dan sumber makanan mereka. Dengan tindakan ‎ini, Allah menyempurnakan nikmat kepada Adam dan menyediakan isteri, ‎tempat tinggal dan makanan, sehingga sarana kesejahteraan dan ‎ketenteraman mereka terpenuhi dan hendaklah mereka mempelajari cara-‎cara pemanfaatan bumi dan hasil-hasilnya yang luas dari pengalaman.
Akan tetapi bukan berarti setiap yang di makan bermanfaat dan perlu untuk ‎badan. Oleh karena itu, Allah melarang mereka memakan buah dari pohon ‎tertentu, sebab memakan buah pohon itu menyebabkan gangguan pada ‎tubuh dan menganiaya jiwanya, yang diikuti dengan keluarnya mereka dari ‎Surga dunia. Dari hal-hal yang telah kami katakan jelaslah, bahwa Surga yang ‎dijadikan tempat tinggal untuk Adam bukanlah Surga yang dijanjikan pada ‎hari kiamat, sebab:‎

‎1. Surga tersebut sebagai imbalan pahala. Sedangkan Adam hingga saat itu ‎belum melakukan perbuatan baik yang menyebabkannya berhak ‎mendapatkan pahala. Sebagaimana disebutkan dalam ayat 142 surat Ali ‎Imran yang berbunyi, “Apakah kamu mengira akan masuk Surga, padahal ‎belum nyata bagi Allah orang-orang yang berjihad dari kamu.” ‎
‎2. Orang-orang yang telah dimasukkan ke dalam Surga yang telah dijanjikan, ‎tidak lagi akan keluar darinya. Sebagaimana ayat 48 surat al-Hijr ‎menyatakan, “Dan tidaklah mereka akan dikeluarkan.“‎
‎3. Di dalam Surga yang dijanjikan tidak terdapat pohon yang terlarang, ‎sehingga Allah melarang memakannya, bahkan segalanya halal dan ‎diperbolehkan. Dari sisi lain, Allah juga menyebut taman-taman yang subur di ‎dunia dengan sebutan jannah pula, dan kata ini tidak dikhususkan untuk ‎surga yang dijanjikan seperti tersebut dalam ayat 17 surat al-Qalam, “Wahai ‎Nabi, Kami akan menguji mereka (orang-orang kaya yang takabbur dan ‎musyrik) sebagaimana Kami uji para pemilik kebun.
Dari ayat tadi terdapat enam poin pelajaran yang dapat dipetik:‎ ‎
‎1. Isteri, tempat tinggal dan makanan adalah kenikmatan-kenikmatan yang ‎dianugerahkan Allah untuk kesejahteraan dan ketenteraman manusia di muka ‎bumi. ‎
‎2. Perempuan di rumah mengikuti lelaki. Pada masalah-masalah lain, ayat-‎ayat ini membicarakan Adam dan isterinya, dengan firman-Nya, ‎‎(taqrabaa, kalian berdua mendekati, syi’tumaa, kalian berdua kehendaki, ‎kulaa, makanlah kalian berdua), namun pada masalah tempat tinggal hanya ‎Adam yang dijadikan subyek pembicaraan, sedangkan isterinya disebutkan ‎mengikutinya sebagaimana firman Allah, “Tinggallah kamu dengan isterimu di ‎jannah (taman).
‎3. Sebelum melarang sesuatu, pada awalny pintu-pintu yang menuju ke jalan ‎yang benar untuk mengatasi keperluan itu harus dibuka. Manusia ‎memerlukan makanan, lantaran itu mula-mula Allah menetapkan makanan-‎makanan yang diperbolehkan, baru kemudian melarang memakan tumbuhan ‎tertentu.‎
‎4. Dosa sedemikian berbahaya, hingga tidak boleh mendekatinya, apalagi jika ‎dilakukan. Oleh karena itu, Allah tidak mengatakan “la ‎tak kulaa“, janganlah memakan tumbuhan ini, tetapi Allah berfirman, “la ‎taqrabaa“, janganlah kamu mendekatinya. ‎
‎5. Perbuatan yang dilarang Allah, akibat buruknya akan sampai kepada ‎manusia, bukan kepada Allah. Melanggar perintah-perintah ilahi adalah ‎menzalimi diri sendiri dan menjauhkan manusia dari nikmat-nikmat ilahi. ‎
‎6. Manusia dalam makan tidak boleh seperti hewan yang tunduk pada perut, ‎dimana segala yang ia inginkan dimakan. Namun manusia harus menaati ‎Allah. Segala hal yang dipandang baik oleh Allah bagi dirinya, ia makan dan ‎yang dilarang ia tinggalkan.‎

Ayat ke 36
Artinya:

Lalu keduanya digelincirkan oleh setan dari surga itu dan dikeluarkan dari ‎keadaan semula dan Kami berfirman, “Turunlah kamu! Sebagian kamu ‎menjadi musuh bagi yang lain dan bagi kamu ada tempat kediaman di bumi ‎dan kesenangan hidup sampai waktu yang ditentukan.”‎

Sebelum ini telah dijelaskan mengenai peristiwa penciptaan dan khilafah ‎Adam, dan sampai pada pembahasan tentang ditempatkannya Adam dan ‎isterinya oleh Allah pada suatu taman surga dan disediakan segala jenis ‎makanan untuk mereka.Namun Allah melarang tumbuhan khusus, yang ‎apabila dimakan akan menyebabkan kerugian dan mengakibatkan kezaliman ‎terhadap diri sendiri.
Adapun setan yang terusir dari rahmat ilahi lantaran berpaling dari perintah ‎untuk bersujud kepada Adam, senantiasa berusaha mengeluarkan Adam dari tempat ketenangan, kesejahteraan dan ketenteraman, guna ‎melampiaskan dendamnya kepada Adam. ‎Karena itu, setan berusaha keras membujuk Adam agar memakan tumbuhan ‎terlarang dengan berbagai godaan dan berpura-pura berniat baik dengan ‎menyebutkan berbagai manfaat buah dari pohon tersebut.‎
Akhirnya, Adam dan isterinya memakan buah pohon itu. Mereka tidak ‎mempunyai niat untuk melanggar perintah Allah, sama halnya seperti seorang ‎anak kecil yang tidak memiliki pengalaman berdusta dan menipu, yang ‎menganggap selainnya jujur seperti dirinya.
Sewaktu setan bersumpah kepada mereka bahwa yang dikatakannya ‎mengenai manfaat-manfaat tumbuhan itu adalah benar dan jujur, maka Adam ‎mempercayainya dan akhirnya tertipu. Akibat pelanggaran terhadap perintah ‎ilahi ini adalah Adam dan isterinya dikeluarkan dari surga, selanjutnya turun ‎perintah dari sisi Allah, keluarlah kalian dari wilayah kedekatan ilahi dan telah ‎pecah benih dendam dan permusuhan antara kalian dan setan. Dan kalian ‎akan berada di bumi hingga saat yang ditentukan.
Tujuan pokok penciptaan ‎Adam adalah kekhilafahannya di muka bumi, maka Adam harus tinggal di ‎bumi. Namun pada mulanya Allah telah menyiapkan sebuah lingkungan yang ‎tenang dan jauh dari berbagai kesulitan, hingga dalam masa persiapan ini ‎Adam akan mengenal kondisi kehidupan di bumi, juga mengenal musuh ‎sebenarnya, yaitu setan.
Dari ayat tadi terdapat lima poin pelajaran yang dapat dipetik:‎ ‎
‎1. Menuruti ajakan setan tidak hanya menjauhkan manusia dari rahmat ilahi, ‎tetapi juga merampas kesejahteraan yang terjadi pada Adam dan isterinya ‎yang dikeluarkan dari surga yang penuh rahmat menuju ke bumi yang serba ‎susah. ‎
‎2. Permusuhan setan dengan manusia adalah permusuhan lama, dimulai ‎sejak awal penciptaan manusia hingga saat ini.‎
‎3. Bumi adalah tempat sementara kehidupan manusia dan pemanfaatan ‎manusia atasnya terbatas dan sementara. Hendaknya kita pikirkan persiapan ‎tempat yang abadi kita di surga. ‎
‎4. Sesungguhnya setiap manusia adalah penghuni surga lantaran potensi-‎potensi dan kelayakan-kelayakan yang diciptakan oleh Allah padanya, tetapi ‎pelanggaran-pelanggaran yang ia lakukan menyebabkannya jatuh dan ‎terjerumus ke dalam jurang kesusahan. ‎
‎5. Tidak seorang manusia pun terjaga dari bahaya dosa dan penyimpangan, ‎kecuali Allah menjaganya. Adam yang merupakan khalifah Allah di muka bumi ‎dan menjadi sosok manusia mulia sehingga malaikat bersujud kepadanya, ‎kelalaian sesaat saja mengeluarkannya dari sisi-Nya. Namun kesalahan ‎Adam sebelum ia mencapai tingkat kenabian. ‎(IRIB Indonesia)