(alamislam.com) – Pendalaman terhadap Kitab Allah dan Sunnah Rasul-Nya, saw serta kehidupan bangsa dan masyarakat, bisa membuat seseorang mengetahui tentang pengaruh hukum-hukum Allah dalam jiwa dan alam semesta ini. Allah berfirman:

يُرِيدُ اللَّهُ لِيُبَيِّنَ لَكُمْ وَيَهْدِيَكُمْ سُنَنَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ وَيَتُوبَ عَلَيْكُمْ وَاللَّهُ عَلِيمٌ حَكِيمٌ

Allah hendak menerangkan (hukum syariat-Nya) kepadamu, dan menunjukimu kepada jalan-jalan orang yang sebelum kamu (para nabi dan shalihin) dan (hendak) menerima taubatmu. dan Allah Maha mengetahui lagi Maha Bijaksana.” (An-Nisa’: 26)

Al-Quran telah mengisyaratkan agar kita selalu memperhatikan pengaruh aturan Allah dalam sejarah kehidupan manusia. Dalam hal ini, Allah berfirman:

قُلِ انْظُرُوا مَاذَا فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَمَا تُغْنِي الْآَيَاتُ وَالنُّذُرُ عَنْ قَوْمٍ لَا يُؤْمِنُونَ (101) فَهَلْ يَنْتَظِرُونَ إِلَّا مِثْلَ أَيَّامِ الَّذِينَ خَلَوْا مِنْ قَبْلِهِمْ قُلْ فَانْتَظِرُوا إِنِّي مَعَكُمْ مِنَ الْمُنْتَظِرِينَ

“Katakanlah, ‘Perhatikanlah apa yang ada di langit dan di bumi. tidaklah bermanfaat tanda kekuasaan Allah dan rasul-rasul yang memberi peringatan bagi orang-orang yang tidak beriman’.  Mereka tidak menunggu-nunggu kecuali (kejadian-kejadian) yang sama dengan kejadian-kejadian (yang menimpa) orang-orang yang telah terdahulu sebelum mereka. Katakanlah, ‘Maka tunggulah, sesungguhnya aku pun termasuk orang-orang yang menunggu bersama kamu’.”  (Yunus: 101-102).

Hukum yang diturunkan oleh Allah—bila diterapkan—memiliki pengaruh duniawi dan ukrawi. Mari kita buktikan bagaimana pengaruh dari komitmen terhadap ketentuan-ketentuan Quran dan Sunnah. Kita ambil contoh penerapan syariat Islam pada masa Umar bin Abdul Aziz.

 

1.      Pengukuhan Sebagai Khalifah:

Kita menemukan bahwa  Umar bin Abdul Aziz, rahimahullah, diberi karunia oleh Allah di bumi ini disebabkan oleh antusiasme dia dalam menegakkan syariat Allah pada dirinya sendiri, keluarga, orang-orang di sekelilingnya, dan umatnya. Dia sangat ikhlas dalam menerapkan syariat Allah yang reformis dan membawa kepada petunjuk. Karena itu, Allah menolongnya. Dengan demikian, Umar bin Abdul Aziz telah memahami dan mengamalkan syarat-syarat untuk mendapatkan kekuasaan di bumi (tamkin).

وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ آَمَنُوا مِنْكُمْ وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ لَيَسْتَخْلِفَنَّهُمْ فِي الْأَرْضِ كَمَا اسْتَخْلَفَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ وَلَيُمَكِّنَنَّ لَهُمْ دِينَهُمُ الَّذِي ارْتَضَى لَهُمْ وَلَيُبَدِّلَنَّهُمْ مِنْ بَعْدِ خَوْفِهِمْ أَمْنًا يَعْبُدُونَنِي لَا يُشْرِكُونَ بِي شَيْئًا وَمَنْ كَفَرَ بَعْدَ ذَلِكَ فَأُولَئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ

“Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa dia sungguh- sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di muka bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka dalam ketakutan menjadi aman sentosa. Mereka tetap menyembahku-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apapun dengan Aku. Dan barang siapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, maka mereka Itulah orang-orang yang fasik.” (An-Nur: 55).

Ayat tersebut merupakan sunah rabbaniyah yang tetap berlaku dan tidak akan berganti pada bangsa pada masa kapan pun yang berupaya dengan sebenar-benarnya, menegakkan syariat Allah.

2.      Keamanan dan stabilitas:

Revolusi pada masa kekhalifahan Bani Umayyah untuk melawan sistem yang sedang berkuasa, memang terjadi, terutama dari kelompok khawarij. Tetapi, Umar bin Abdul Aziz mampu berdialog untuk meyakinkan dan meredakan kebanyakan dari mereka. Ini ditandai dengan keamanan dan stabilitas yang tercipta disebabkan oleh keadilan Umar bin Abdul Aziz dalam berhukum, membersihkan kezaliman, dan menghormati orang yang lebih tua, menghormati semua besar dengan tuntutan syariat bagi masyarakat dan kepeduliannya dalam penerapan hukum syariat dalam segala urusan kehidupan.

3.      Kemenangan dan penaklukan:

Umar bin Abdul Aziz, sangat peduli dalam hal menolong agama Allah dengan semua yang ia miliki. Maka sunnatullah bahwa Allah akan menolong siapa yang menolong agamanya pun berlaku pada Umar. Sebab, Allah menjamin siapa yang istiqamah dalam syariatnya maka Dia akan menolongnya dari musuh dengan kekuatan-Nya.

وَلَيَنْصُرَنَّ اللَّهُ مَنْ يَنْصُرُهُ إِنَّ اللَّهَ لَقَوِيٌّ عَزِيزٌ (40) الَّذِينَ إِنْ مَكَّنَّاهُمْ فِي الْأَرْضِ أَقَامُوا الصَّلَاةَ وَآَتَوُا الزَّكَاةَ وَأَمَرُوا بِالْمَعْرُوفِ وَنَهَوْا عَنِ الْمُنْكَرِ وَلِلَّهِ عَاقِبَةُ الْأُمُورِ

“Sesungguhnya Allah pasti menolong orang yang menolong (agama)-Nya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Kuat lagi Maha Perkasa, (yaitu) orang-orang yang jika kami teguhkan kedudukan mereka di muka bumi niscaya mereka mendirikan shalat, menunaikan zakat, menyuruh berbuat makruf dan mencegah dari perbuatan yang mungkar; dan kepada Allah-lah kembali segala urusan.” (Al-Hajj: 41-42). (Bersambung ke Berkah [2]…)