(alamislam.com) – Ath-Thabari dalam buku sejarahnya, menuliskan bahwa Al-Walid ketika berkuasa adalah pemilik rumah mewah dan banyak pabrik. Banyak orang ingin mendapatkan keuntungan darinya pada masanya. Perbincangan orang di tempat-tempat kumpul mereka adalah persoalan rumah mewah dan pabrik. Kapan bisa punya rumah bagus dan pabrik seperti Al-Walid. Kemudian, Sulaiman menggantikan tahtanya. Ia adalah sosok yang suka lelucon dan hobi makan. Maka perbincangan masyarakat di warung-warung angkringan adalah  persoalan hiburan dan makanan. Namun, ketika Umar bin Abdul Aziz naik tahta, masyarakat pun sering berhubungan dengannya. Percakapan antara mereka adalah:  Berapa lama Anda shalat tadi malam? Berapa banyak Anda hafal Quran? Kapan Anda mengkhatamkannya? Puasa (sunah; red) apa yang Anda kerjakan pada bulan ini?

Ada banyak hal yang bisa kita kerjakan, selain berbicara dan bersuara, agar Allah mendatangkan kemenangan dan pertolongan-Nya menjelang. Sebab bukan kita yang memenangkan agama ini, tetapi Dia semata. Berikut lanjutan dari tindakan nyata Umar bin Abdul Aziz hingga menyebabkan pertolongan Allah itu datang:

 

4.      Kemuliaan dan Kehormatan:

kehormatan besar dan kemuliaan agung yang tertulis dalam buku-buku sejarah dari Umar bin Abdul Aziz, itu karena kepatuhan kepada Kitab Allah dan Sunnah Rasul-Nya saw. Dan bahwa orang yang merasa bangga karena telah berafiliasi kepada Kitab Allah, maka Allah akan meletakkan kakinya di atas jalan yang benar dan sunnatullah yang berlaku baginya adalah di atas kemuliaan dan kehormatan. Dalam hal ini Allah berfirman:

لَقَدْ أَنْزَلْنَا إِلَيْكُمْ كِتَابًا فِيهِ ذِكْرُكُمْ أَفَلَا تَعْقِلُونَ

 “Sesungguhnya telah kami turunkan kepada kamu sebuah Kitab yang di dalamnya terdapat sebab-sebab kemuliaan bagimu. Maka apakah kamu tiada memahaminya?” (Al-Anbiya: 10).

 

Ibnu Abbas rahimahullah mengatakan, “Ada kemuliaan kalian di dalamnya. Maka umat ini tidak akan menetap dalam kemuliaan dan kehormatan kecuali bila berpegang kepada hukum-hukum Islam.”

5.      Hidup yang penuh berkah dan kehidupan baik pada masanya:

Allah berfirman, “Sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat kami) itu, Maka kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.” (Al-A’raf: 96).

Secara materi atau moral, kita pasti takjub terhadap keberkahan hidup dan keindahan kehidupan yang merata pada seluruh rakyat pada masa Umar di Daulah Umayyah yang sangat luas itu. Bahkan, kehormatan itu telah memperlihatkan orang-orang yang tidak mau menerima zakat—karena sudah makmur dan tidak berhak lagi.

6.      Kebajikan yang merata dan keburukan menjauh:

Syariat dan manusia itu memiliki hubungan yang erat. Bagaimana tidak, sedangkan syariat Islam dalam puncak tujuannya adalah menyucikan jiwa dan mendidik mereka dengan keutamaan.

“Sungguh Allah telah memberi karunia kepada orang-orang yang beriman ketika Allah mengutus di antara mereka seorang Rasul dari golongan mereka sendiri, yang membacakan kepada mereka ayat-ayat Allah, membersihkan (jiwa) mereka, dan mengajarkan kepada mereka Al Kitab dan Al hikmah. dan Sesungguhnya sebelum (kedatangan Nabi) itu, mereka adalah benar-benar dalam kesesatan yang nyata.” (Ali Imran: 164)

“Membersihkan (jiwa) mereka” berarti memerintahkan agar mereka berbuat kebaikan dan melarang mereka dari perbuatan mungkar. Agar jiwa mereka bersih dari kotoran dan kejahatan, yang telah mengotori mereka ketika dalam kondisi kesyirikan dan kebodohan. Umar bin Abdul Aziz sangat memperhatikan penyebaran kebajikan dan berperang melawan kejahatan. Geliat mimbar-mimbar nasihat, bimbingan, penyucian jiwa, dan pendidikan menghidupkan seluruh negeri pada masanya. Hasan Bashri dan Ayub As-Sakhtayani, Malik bin Dinar adalah contoh pelopor dalam bidang itu semua. Dan Umar bin Abdul Aziz mampu merealisasikan itu. Ia berhasil menciptakan masyarakat Islam yang bermoral dan jauh dari kejahatan.

Ath-Thabari dalam buku sejarahnya, menuliskan bahwa Al-Walid ketika berkuasa adalah pemilik rumah mewah dan banyak pabrik. Banyak orang ingin mendapatkan keuntungan darinya pada masanya. Perbincangan orang di tempat-tempat kumpul mereka adalah persoalan rumah mewah dan pabrik. Kapan bisa punya rumah bagus dan pabrik seperti Al-Walid. Kemudian, Sulaiman menggantikan tahtanya. Ia adalah sosok yang suka lelucon dan hobi makan. Maka perbincangan masyarakat di warung-warung angkringan adalah  persoalan hiburan dan makanan. Namun, ketika Umar bin Abdul Aziz naik tahta, masyarakat pun sering berhubungan dengannya. Percakapan antara mereka adalah:  Berapa lama Anda shalat tadi malam? Berapa banyak Anda hafal Quran? Kapan Anda mengkhatamkannya? Puasa (sunah; red) apa yang Anda kerjakan pada bulan ini?

7.      Petunjuk dan Peneguhan:

Umar bin Abdul Aziz dalam pidato tertulis yang dikirimkan agar dibacakan di hadapan para jamaah haji pada musimnya, mengungkapkan:

“Kalau saja aku bisa menghadiri manasik kalian ini, niscaya aku menggambarkan kepada kalian beberapa urusan kebenaran yang dihidupkan oleh Allah untuk kalian serta beberapa perkara batil yang dimatikan oleh-Nya dari kalian. Allahlah satu-satunya yang berkuasa atas itu. Karena itu janganlah kalian memuji selain Dia. Sebab, kalau kebenaran itu diwakilkan kepada diriku, maka aku pasti tidak berbeda dengan yang lain. Wassalam.”

Tidak diragukan, Umar sangat peduli terhadap tahkim syariat di negerinya karena dengan itu, Allah mengaruniakan kenikmatan yang agung. Yaitu hidayah dan konsisten dalam kebenaran. Keduanya merupakan pemberian dari Allah bagi siapa yang hatinya tenggelam dalam perintah-Nya dan fisiknya bangkit mengamalkannya.

8.      Daulah Umar bin Abdul Aziz adalah bukti kemampuan hukum Islam untuk menyelesaikan segala krisis dan masalah:

Pemerintahan Umar Abdul bin Aziz merupakan bukti sejarah bagi orang yang masih saja mengulang kata-kata dan argumen: “Negara yang didasarkan pada ketentuan Syariat Islam rentan terhadap masalah dan krisis; rawan ambruk setiap waktu. Negara berdasarkan hukum Islam hanyalah mimpi.”

Itulah pengaruh tahkim syariat Allah pada bangsa yang mengimplementasikan perintah dan larangan-Nya merupakan fenomena yang nyata bagi orang yang mempelajari sejarah. Dampak yang baik itu sungguh merupakan sunnatullah yang berlaku pada masa dahulu dan sekarang, tidak akan berubah atau berganti. Maka, pemimpin kaum bangsa mana pun yang berupaya memenuhi tuntutan agung itu dan mengamalkan dengan ikhlas karena-Nya, dengan menerapkan hukum-hukum Allah di bumi, maka ia akan mencapai kemuliaan itu. Anda akan melihat pengaruh tahkim tersebut pada individu, masyarakat, bangsa, dan para penguasanya. (Sambungan dari tulisan: Berkah [1]…)
Dibahasakan ulang oleh A. Ahmad dari tulisan Dr. Ali Muhammad Ash-Shalabi

Sumber:www.alamislam.com