Silsilah Keturunan Umar bin Abdul Aziz dari Jalur Ayah dan IbuNamanya adalah Umar bin Abdul Aziz bin Marwan bin Hakam bin Abul Ash bin Umayah bin Abdu Syams bin Abdu Manaf. Gelarnya adalah Al-Imam Al-Hafizh Al-Allamah Al-Mujtahid Az-Zahid Al-‘Abid As-Sayyid Amirul Mukminin Haqqan, Abu Hafsh Al-Qursyi Al-Umawi Al-Madani kemudian Al-Mishri, Al-Khalifah Az-Zahid Ar-Rasyid Asyajj Bani Umayyah.1)
Nama ayahnya adalah Abdul Aziz bin Marwan bin Al-Hakam. Dia termasuk salah satu pejabat terbaik Bani Umayah. Dia adalah seorang pemberani dan dermawan, menjabat sebagai gubernur Mesir lebih dari dua puluh tahun. Di antara kesempurnaan sifat wara’ dan kesalehannya terlihat ketika hendak menikah dia berkata kepada pelayannya, “Kumpulkanlah untukku empat ratus dinar dari hartaku yang halal dan baik, sebab aku ingin menikahi seorang putri dari keluarga yang saleh.”2)

Abdul Aziz bin Marwan menikahi Ummu Ashim putri Ashim, cucu Amirul Mukminin Umar bin Al-Khaththab. Ada yang menyebutkan bahwa namanya adalah Laila.3) Saat muda, Abdul Aziz bin Marwan dikenal berperilaku baik, di samping itu dikenal karena kesungguhan dan ketekunannya dalam menuntut ilmu juga karena perhatiannya terhadap hadits Nabi SAW.. Dia sering duduk di majelis Abu Hurairah dan sahabat-sahabat lain untuk mendengarkan hadits dari mereka. Perhatian besarnya terhadap hadits terus berlanjut bahkan setelah dia menjabat sebagai gubernur Mesir, dia pernah meminta kepada Katsir bin Murrah di Syam untuk mengirimkan hadits-hadits yang didengarnya dari Rasulullah SAW. kecuali yang disampaikan melalui Abu Hurairah karena hadits-hadits itu sudah ada padanya.4)

Banyak ahli sejarah yang memujinya terlebih karena kedermawanannya. Kedermawanannya ini bercampur dengan sebuah keyakinan bahwa Allah SWT. akan mengganti apa yang selama ini dia berikan kepada orang lain. Dia berkata, “Sungguh mengagumkan bagi seorang muslim yang percaya bahwa Allah yang memberi rezeki dan menggantikan (rezeki yang diinfakkan). Bagaimana mungkin dia menahan hartanya sementara dia tahu bahwa pahala dan penggantinya lebih besar dan juga lebih baik.”

Dia juga merupakan seorang yang sangat takut kepada Allah SWT., dan kita bisa mengetahui rasa takutnya ini dari perkataannya ketika kematian menghampirinya, “Aku ingin, andai aku ini tidak menjadi sesuatu yang dapat disebut. Aku ingin, andai aku ini menjadi air yang mengalir atau menjadi salah satu tumbuhan di tanah Hijaz.” 5)
Ayah Ummu Ashim bernama Ashim bin Umar bin Al-Khaththab. Lahir pada masa kenabian dan meriwayatkan hadits dari ayahnya. Ibunya bernama Jamilah binti Tsabit bin Abi Al-Aqlah Al-Anshariyah. Ashim memiliki tubuh tinggi besar dan termasuk salah seorang ulama yang cerdas, taat beragama, baik, dan saleh. Dia juga merupakan ahli balaghah, fasih dalam berbicara, dan ahli syair. Dia adalah kakek khalifah Umar bin Abdul Aziz dari pihak ibu, meninggal pada tahun 70 H. Ibnu Umar meratapi kepergian saudaranya ini dengan sebait syair:

Andai saja kematian tidak menghampiri Ashim
Maka kami akan dapat hidup bersama atau pergi bersama 6)


(Silsilah keturunan Umar bin Abdul Aziz dari jalur ayah dan ibu)

Berkaitan dengan neneknya dari pihak ibu yang bernama Jamilah binti Tsabit (lihat grafis), ada sebuah peristiwa yang pernah terjadi antara dirinya dengan Umar bin Al-Khaththab ra. Diriwayatkan dari Abdullah bin Az-Zubair bin Aslam, dari ayahnya, dari kakeknya, Aslam, dia berkata, “Ketika aku dan Umar bin Al-Khaththab melakukan ronda pada malam hari di kota Madinah, tiba-tiba dia merasa lelah, lalu dia pun menyandarkan punggungnya ke dinding sebuah rumah. Tiba-tiba dari dalam rumah terdengar suara seorang wanita berkata kepada putrinya, ‘Wahai anakku, bangunlah, ambillah susu itu lalu campurkanlah ia dengan air.’ Putrinya menjawab, ‘Wahai ibuku, tidakkah engkau tahu apa yang disampaikan Amirul Mukminin hari ini?’ Ibunya berkata, ‘Memang apa yang ditetapkan olehnya, wahai anakku?’ Putrinya menjawab, ‘Dia memerintahkan seseorang untuk menyerukan agar tidak ada seorang pun yang mencampurkan susu dengan air.’ Ibunya berkata lagi, ‘Tidak mengapa wahai anakku, bangunlah, ambillah susu itu lalu campurkanlah ia dengan air, sebab kamu ada di tempat yang tidak terlihat oleh Umar maupun suruhannya.’ Lalu sang anak berkata kepada ibunya, ‘Wahai ibuku, demi Allah, aku tidak akan menaatinya di hadapan banyak orang, lalu membangkang terhadapnya kala sendirian.’

Khalifah Umar mendengar semua percakapan yang terjadi di antara mereka, dia pun berkata, ‘Wahai Aslam, tandai pintu rumah ini dan kenali tempat ini.’ Lalu dia pun kembali melanjutkan perjalanan ronda. Ketika waktu pagi tiba Umar berkata, ‘Wahai Aslam, kembalilah ke tempat tadi malam dan lihatlah siapa wanita yang berkata itu, siapa anak perempuan itu, dan cari tahu apakah dia sudah bersuami?’ Aku pun segera mendatangi tempat tersebut dan aku melihat-lihat ternyata anak perempuan ini masih gadis dan belum menikah, dia hanya tinggal berdua dengan ibunya. Aku pun segera kembali dan memberitahukan hal ini kepada Umar.

Umar kemudian  memanggil anak-anak laki-lakinya dan mengumpulkan mereka, lalu berkata, ‘Adakah di antara kalian yang ingin aku nikahkan dengan seorang perempuan?’ Ashim berkata, ‘Wahai ayahku, aku tidak memiliki istri, nikahkanlah dia denganku.’ Maka Umar pun mengutusnya kepada gadis itu dan menikahkannya dengan Ashim. Dari pernikahan Ashim ini kemudian lahir seorang anak perempuan dan dari anak perempuan ini kemudian lahir Umar bin Abdul Aziz.”7) (Abu Ahmad)
Referensi:
1) Siyar A’lâm An-Nubalâ’, 5/144.
2) Ath-Thabaqât Al-Kubrâ, 5/331, Al-Jawânib At-Tarbawiyyah Fî Hayât Al-Khalîfah Umar bin Abdil Aziz, Nayi’Umar, hlm. 11
3) Abdul Aziz bin Marwan Wa Sîratuhu Fî Ahdâts Al-Áshri Al-Umawi, hlm. 58
4) Siyar A’lam An-Nubalâ’, 4/47
5) Ibid, hlm. 56, menukil dari kitab Al-Bidâyah Wa An-Nihâyah.
6) Siyar A’lam An-Nubalâ, 4/97
7) Sîrah Umar, Ibnu Al-Hakam, hlm. 19-20, Sîrah Umar, Ibnu Al-Jauziyah, hlm. 10

Sumber:www.alamislam.com