kisah tabi'in dan sahabat

Kisah Muslim – Diriwayatkan bahwa seorang laki-laki melihat seorang budak yang dijual. Tidak ada cacat apa pun pada budak tersebut. Hanya saja dia tukang adu domba. Tetapi lelaki tersebut menganggap remeh cacat ini. Lelaki tersebut tetap membelinya.

Setelah beberapa hari si budak tinggal bersama lelaki tersebut, si budak berkata kepada istri majikannya, “Sungguh, majikanku hendak menikah dengan perempuan selain engkau.” Dia menambahkan, “Sebenarnya dia tidak mencintaimu. Jika engkau ingin dia menyayangimu dan mengurungkan apa yang telah direncanakannya, maka apabila dia tidur, ambillah pisau cukur lalu cukurlah beberapa bulu di bawah janggutnya dan biarkan bulu-bulu itu bersamamu.”

Isteri majikan itu berkata dalam hati, “Baiklah.” Dia pun hendak melakukan hal tersebut pada saat suaminya tidur.

Tatkala si suami datang, si budak berkata kepadanya, “Sungguh, majikan perempuanku, istri Anda mempunyai teman dan kekasih selain Anda. Dia ingin lepas dari Anda. Sungguh, dia telah berencana hendak menyembelih Anda di malam hari. Jika Anda tidak percaya pada saya, cobalah Anda pura-pura tidur di malam hari. Lihatlah bagaimana istri Anda menghampiri Anda sementara di tangannya ada sesuatu untuk menyembelih Anda.” Ternyata majikan tersebut mempercayai si budak.

Ketika malam menjelang, di saat si suami berpura-pura tidur si istri datang membawa pisau cukur untuk mencukur bulu di bawah janggut suaminya. Si suami berkata dalam hati, “Demi Allah, sungguh benar kata si budak.” Tatkala si istri telah meletakkan pisau cukur dan hendak menjatuhkannya ke tenggorokan suami, kontan si suami bangkit dan merampas pisau cukur dari istrinya,  lalu dia menyembelih istrinya dengan pisau tersebut. Kemudian keluarga istri datang dan mendapati perempuan tersebut dalam keadaan terbunuh, lalu mereka pun membunuh si suami tersebut. Akhirnya terjadi pertikaian antara dua kelompok gara-gara budak tukang adu domba tersebut.

Tersebut bahwa seorang laki-laki menghadap Umar bin Al-Khaththab radhiyallahu anhu. Lalu lelaki tersebut mengadu domba Umar radhiyallahu anhu dengan salah seorang sahabat Umar radhiyallahu anhu. Dia menyampaikan ucapan jelek dari temannya tersebut kepada Umar radhiyallahu anhu. Dia mengobarkan amarah Umar radhiyallahu anhu. Ketika lelaki tersebut telah selesai menyampaikan fitnahnya, Umar radhiyallahu anhu menundukkan kepalanya seolah-olah beliau memikirkan ucapan fitnah tersebut, “Hai saudara! Jika kamu mau, kami akan pikirkan urusanmu ini dan kami selidiki ceritamu. Jika kamu bohong, maka kamu termasuk orang-orang yang disebutkan dalam ayat ini:

Wahai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu.” (QS. Al-Hujurat: 6)

Jika kamu berkata jujur, maka kamu termasuk orang-orang yang disebutkan dalam ayat berikut:

Dan janganlah engkau patuhi setiap orang yang suka bersumpah dan suka menghina, suka mencela, yang kian kemari menyebarkan fitnah.” (QS. Al-Qalam: 10-11)

Jika kamu mau, maka saya akan mengampunimu dan kamu jangan kembali lagi ke sini setelah hari ini. Kamu bukan termasuk di antara teman-teman duduk kaum mukmin.”

Dia telah berbuat sesuatu yang hina pada dirinya sendiri. Lelaki tersebut berkata, “Saya meminta maaf kepadamu, wahai Amirul Mukminin. Saya berjanji kepadamu tidak akan menyebarkan fitnah lagi. Selanjutnya dia meninggalkan tempat Umar dalam keadaan hina dan malu.”

Suatu ketika Shahib bin Ubbar salah seorang pejabat pemerintah Andalusia sedang di tempat duduknya. Tiba-tiba pelayannya masuk membawa secarik kertas dari seseorang yang berdiri di depan pintu, lalu Shahib bin Ubbad membacanya. Ternyata di dalamnya terdapat ungkapan yang panjang. Penulis surat meminta agar si pejabat tersebut mengambil harta dari anak yatim yang lemah. Dia ditinggal mati ayahnya sebatang kara di dunia ini. Ayahnya meninggalkan banyak harta dan kebun untuknya. Jika pejabat tersebut berkenan, maka dia dapat meletakkan kekuasannya pada harta tersebut dan tidak ada seorang pun yang melawannya. Lantas si pejabat menandatangani lembaran kertas tersebut dengan menuliskan kalimat berikut, “Sesungguhnya mengadu domba merupakan perbuatan yang buruk. Meskipun berupa nasihat yang baik. Orang yang telah meninggal semoga dirahmati Allah Subhanahu wa Ta’ala, anak yatim semoga dicukup oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala, harta benda semoga dikembangkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala, sedang tukang adu domba semoga dilaknat oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala.”

Sumber: Hiburan Orang-orang Shalih, 101 Kisah Segar, Nyata dan Penuh Hikmah, Pustaka Arafah Cetakan 1

Artikel www.KisahMuslim.com